Apa yang Saya Dapatkan dari Leadership 4 agar Siap Bertahan dan Bekerja?
Setelah mengikuti Leadership 4, saya semakin menyadari bahwa kesiapan untuk bekerja tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis, tetapi juga oleh cara seseorang mengenal dirinya, membangun dasar hidupnya, menerapkan kemampuan yang dimiliki, dan berani melewati proses pembentukan diri. Banyak hal yang saya pikirkan dalam kegiatan ini, karena pada dasarnya setiap orang perlu berpikir secara serius untuk memahami apa yang ingin ia capai dan bagaimana cara mencapainya.
Dalam Leadership 4, saya menangkap tiga prinsip utama yang sangat penting, yaitu Fundamental, Applying, dan Proses. Ketiga prinsip ini membantu saya memahami diri sendiri, mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja, serta membangun keberanian untuk terus berkembang.
1. Fundamental: Mengenal Dasar Diri Sendiri
Prinsip pertama adalah Fundamental. Bagi saya, fundamental adalah dasar untuk memahami siapa diri kita, akan menjadi apa kita, dan apa yang harus kita lakukan untuk mencapai tujuan hidup kita. Fundamental menjadi pondasi yang menopang diri kita agar tidak mudah goyah ketika menghadapi tantangan.
Saya mengibaratkan fundamental seperti akar pohon. Akar memang tidak selalu terlihat dari luar, tetapi justru akar itulah yang menjadi penopang utama bagi batang, daun, buah, dan seluruh kehidupan pohon tersebut. Jika akarnya kuat, pohon dapat tetap berdiri meskipun diterpa angin. Begitu juga dengan diri kita. Kita membutuhkan dasar yang kuat agar siap melangkah ke jenjang kehidupan berikutnya, terutama dunia kerja yang tentu tidak selalu mudah.
Fundamental ini mengajak saya untuk bertanya kepada diri sendiri: siapa saya, apa tujuan saya, apa kekuatan saya, apa kekurangan saya, dan nilai apa yang ingin saya pegang dalam hidup. Tanpa pertanyaan-pertanyaan dasar ini, kita bisa saja berjalan, tetapi tidak tahu arah. Seperti mesin jalan tanpa setting yang benar: bunyi iya, produktif belum tentu.
2. Applying: Menerapkan Pondasi yang Sudah Dibangun
Setelah memiliki fundamental, prinsip berikutnya adalah Applying. Applying berarti menerapkan dasar yang sudah kita bangun. Fundamental tidak cukup hanya dipikirkan, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata.
Salah satu contoh applying adalah ketika kita menghadapi proses wawancara kerja, baik dengan HR, user, maupun pada tahap final. Pada tahap ini, kita diuji: seberapa kuat pondasi diri kita, seberapa jelas kita mengenal diri sendiri, dan seberapa yakin kita dengan jawaban yang kita sampaikan.
Jika kita tidak memiliki fundamental yang kuat, kita akan mudah bingung, ragu, atau tidak konsisten dalam menjawab pertanyaan. Sebaliknya, jika kita sudah mengenal diri sendiri dengan baik, kita akan lebih mampu menjawab dengan lugas, tegas, jujur, dan percaya diri.
Karena itu, bagi teman-teman yang masih belum percaya diri, saya ingin mengajak kita semua untuk mulai berani mempercayai diri sendiri. Yang paling tahu tentang diri kita adalah diri kita sendiri. Orang lain boleh menilai, tetapi kita yang paling bertanggung jawab untuk mengenal, membentuk, dan membawa diri kita ke arah yang lebih baik. Saya yakin setiap orang memiliki potensi untuk menjadi pribadi yang hebat, asal mau membangun pondasi dan berani menerapkannya.
3. Proses: Bertumbuh di Lingkungan Baru
Prinsip terakhir adalah Proses. Proses ini saya pahami sebagai perjalanan kita untuk bertumbuh, terutama ketika nanti menjadi fresh graduate dan masuk ke lingkungan kerja yang baru. Dunia kerja tentu berbeda dengan dunia kuliah. Di sana kita akan bertemu dengan orang baru, sistem baru, tekanan baru, aturan baru, dan tuntutan yang mungkin belum pernah kita alami sebelumnya.
Dalam proses ini, kita perlu siap menerima kenyataan bahwa lingkungan kerja tidak selalu sesuai dengan bayangan kita. Kita harus belajar beradaptasi, membaca situasi, dan tetap berkembang meskipun berada dalam kondisi yang tidak sepenuhnya nyaman.
Menurut saya, dalam proses ini kita juga perlu berani menjadi pribadi yang berbeda secara positif. Setelah saya melihat dan mencari tahu, perusahaan tidak hanya mencari orang yang pintar, tetapi juga orang yang memiliki keunikan, daya pikir, karakter, dan kemampuan memberikan nilai tambah. Keunikan inilah yang dapat menjadi sumber inovasi bagi perusahaan.
Jika kita memiliki keunikan, kemampuan, dan karakter yang kuat, maka kehadiran kita akan lebih dihargai. Kita tidak hanya menjadi pekerja yang menjalankan perintah, tetapi juga pribadi yang mampu memberi kontribusi. Hubungan antara diri kita dan perusahaan pun bisa saling menguntungkan: perusahaan mendapat nilai dari kemampuan kita, dan kita juga berkembang melalui pengalaman kerja tersebut.
Karena itu, saya mengajak teman-teman untuk tidak takut melewati proses ini. Kita diciptakan Tuhan bukan untuk diam saja, tetapi untuk berkarya. Setiap orang memiliki ladangnya masing-masing. Tinggal apakah kita mau mengolahnya dengan sungguh-sungguh atau hanya menunggu keadaan berubah sendiri.
Kesimpulan: Menemukan “Who I Am”
Dari semua hal yang saya pelajari, saya menyimpulkannya dalam satu pertanyaan besar: Who I Am? Siapa sebenarnya saya? Apa yang saya inginkan? Ke mana saya ingin membawa hidup saya? Apa yang harus saya lakukan agar tujuan saya tercapai?
Pertanyaan ini sederhana, tetapi sangat penting. Sebelum terlalu sibuk memikirkan penilaian orang lain, kita perlu lebih dahulu mengenal diri sendiri. Kita perlu tahu arah hidup kita, nilai yang kita pegang, kemampuan yang kita miliki, dan langkah yang harus kita ambil.
Saya juga menyadari bahwa kita perlu berani berbeda dari orang lain. Berbeda bukan berarti merasa paling hebat, tetapi berani menunjukkan keunikan yang baik. Setiap orang memiliki kelebihan masing-masing. Tinggal bagaimana kita meresponsnya: apakah kita hanya diam di tempat, atau mau bergerak maju dengan lebih cepat dan lebih serius.
Saya percaya, teman-teman Angkatan ATMI 55 pasti bisa menghadapi masa ini. Kita semua memiliki keunikan, potensi, dan jalan masing-masing. Maka, carilah dahulu jawaban atas pertanyaan Who I Am sebelum terlalu jauh membandingkan diri dengan orang lain.
Saya mengibaratkan perjalanan ini seperti anak penyu. Dari telur, ia menetas, lalu harus mencari jalannya sendiri menuju laut. Tidak ada yang menggendongnya sampai tujuan. Ia harus bergerak, bertahan, dan menemukan arah. Begitu juga dengan kita. Kita harus mencari jati diri, menemukan jalan, dan berani melangkah agar dapat diterima serta siap berkarya di dunia kerja.
Pada akhirnya, semua usaha ini perlu disertai dengan iman. Karena itu, saya ingin menutup dengan kalimat: Trust your God. Tanpa campur tangan Tuhan, kita tidak akan mampu menjadi apa-apa. Kita perlu berusaha semaksimal mungkin, tetapi juga tetap menyerahkan semuanya kepada Tuhan.
Prinsipnya adalah Ora et Labora: berdoa dan bekerja. Kita harus berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mencapai apa yang kita inginkan, sambil tetap percaya bahwa Tuhan menyertai setiap proses kita.
God bless you.
B Alvico Dexiano
ATMI 55 siap kerja.
